nurul's world

a journey of life

Dewasa, umurnya tua?

on June 21, 2014

Pernah ada seorang laki-laki bertanya, laki2 dewasa itu seperti apa? Mungkin dia bertanya bukan karena dia tidak tahu jawabannya, tapi dia hanya ingin tahu jawaban dari sudut pandang lain, sudut pandang seorang wanita.

Saat itu saya bingung, karena dipikiran saya hanya ada jawaban klise, laki-laki dewasa bukan berarti umurnya tua, tapi pikirannya dewasa. Lalu, pikiran dewasa itu seperti apa? Lama, saya sulit menemukan jawabannya. Tapi akan saya coba jawab.
Kedewasaan, baik laki2 ataupun perempuan bukan terukur oleh seberapa lama dia hidup di dunia, atau seberapa banyak angka yg dia punya dalam umurnya, tapi terletak pada seberapa bertanggung jawabnya dia pada hidupnya, hidup keluarganya, bahkan hidup orang disekitarnya.
Dewasa dan bertanggung jawab adalah kesatuan, tak bisa dipisahkan. Laki2 dewasa pasti bertanggung jawab, begitupun sebaliknya. Konkritnya bagaimana? 3 dari 5 orang perempuan yang saya tanya pendapatnya tentang kriteria kedewasaan mengatakan bahwa laki-laki dewasa adalah dia yang ucapan dan tindakannya sama. dia yang bertanggung jawab bisa terlihat dari bagaimana dia bertindak dan berbicara. Apa maksudnya?  Tindakan dan ucapan adalah sesuatu yang konkrit yang bisa terlihat dari pribadi seseorang, selain penampilan tentunya. Jika ucapan dan tindakannya sama, sejalan, maka itu artinya dia bertanggung jawab. Bertindak dan berbicara sesuai dengan apa yang dia lihat dan ketahui, tidak mengurang-ngurangi atau malah melebih-lebihkan. Jika berjanji dia juga tidak akan ingkar. Ini kriteria yang ketiga perempuan itu sepakati sebagai ciri-ciri utama kedewasaan. Terus apa lagi?
Kriteria berikutnya adalah dewasa, berarti bisa menomor duakan kesenangan sendiri. Ini poin paling sulit, karena untuk bisa mempunyai kriteria ini maka seseorang harus bisa mengenyampingkan egonya, sudah tidak ada lagi pertanyaan, “bagaimana aku?” Tapi berganti menjadi, “bagaimana mereka?”. Ya ini sulit tapi menjadi dewasa adalah pilihan, termasuk berani memilih mendahulukan diri sendiri atau orang lain. Toh bukan meniadakan kesenangan untuk diri sendiri, tapi menomor duakannya saja. Bukan berarti tidak kan?.
Katanya, dia yang dewasa juga punya future orientation, seperti apa?. Mudah, lihat saja bagaimana kita hidup selama ini, jika kamu masih mengatakan “bagaimana nanti saja” maka kamu belum dewasa, karena dia yang dewasa pasti berpikir “nanti bagaimana?”. Sesorang yang selalu punya pertanyaan seperti itu pasti berpikir bagaimana melalui hari ini dengan baik, tapi juga bisa melewati hari-hari berikutnya sama baiknya seperti hari ini. Sehingga tujuan hidupnya pun jelas.
Yang terakhir, mandiri. Bukan berarti dia yang punya rumah sendiri atau punya mobil sendiri. Bukan sama sekali. Tapi dia yang sudah bisa hidup tanpa menganggu atau bergantung pada orang lain. Kita adalah makhluk sosial, hidup bersama-sama, jika dikatakan kita bisa hidup tanpa bantuan orang lain, jelas ini salah. Mandiri bukan berarti hidup sendiri, tapi kita bisa hidup saat orang lain pun tidak bisa membantu kita, inilah arti mandiri sebenarnya.

Nah, dari poin-poin diatas, mana yang belum kamu punya? Kalau punya kriteria lain boleh tambahin di komen ya… 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: